Tapi kadangkala kita sebagai manusia berusaha berbohong, mungkin tidak seluruh bohong itu buruk, kata beberapa orang, namun benarkah itu ?
Tentu kita percaya bahwa kebohongan yang prinsip akan mengakibatkan kerusakan pada akhirnya, dan upaya kita untuk menutupi hal itu akan sia-sia karena perilaku dan bahasa tubuh kita tidak dapat berbohong untuk meng-aminkan upaya bohong kita.
Saya memiliki pengalaman, menarik dengan hal diatas,
Ada seorang teman meminta saya untuk mengerjakan sebuah pekerjaan baginya, yang menurut dia perlu dan patut dilakukan untuk kesinambungan cita cita organisasi. Saya menanggapi dengan baik dan lugas pekerjaan itu, tantangan yang tidak pernah saya abaikan. Menarik buat saya untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Selanjutnya satu tahapan pekerjaan tersebut terselesaikan dan membuahkan hasil, dimana harus muncul pekerjaan baru sebagai kelanjutan tahap pertama, tentu saya berharap bahwa teman saya akan menanyakan apa yang harus dilakukan untuk pekerjaan yang kedua bukan? sebuah bukti bahwa pekerjaan ini merupakan keseriusan PEKERJAAN dan bukan hanya ikon keberhasilan.
Ternyata harapan saya sia-sia. Tahu hal pertama yang dinyatakan oleh teman saya pada saya? "apa anda tertarik untuk mengabari "bos-bos" kita?. tentu saya langsung menjawab tidak!. tahu mengapa ? karena menurut saya bukan masalah "pemberitaannya" yang penting, tapi "what nextnya" yang perlu dibahas.
Terus terang saya akan menanyakan pada teman saya itu, apakah yang penting menurut pribadinya?... dan saya berharap bola matanya tidak bergerak ke kiri... karena kalu itu terjadi maka dia BOHONG, dan tentu saya akan sangat kecewa.
Mengapa tidak, sebuah pekerjaan yang dibangun dengan antusiasme, kegembiraan dan sukacita kerja yang tidak kenal rasa lelah ... ternyata hanya untuk memuaskan keinginan satu orang akan eksistensi .... semoga tidak terjadi.
Kejadian ini menurut saya mennjukkan bagaimana seorang yang dengan ucapan menyampaikan sebuah idea yang menjadi motif bagi orang lain ternyata dalam perbuatannya tidak menunjukkan idea itu sebagai dasar. Perbuatan yang dilakukan tidak menggambarkan keinginan kuat untuk berjuang bagi organisasi. Kasihan orang yang terdorong motif itu, karena terambil manfaatnya tanpa diberi kesempatan menyadari itu.
Dalam hal lain, sering kita menyatakan kata "kita" untuk menunjukkan kebersamaan. Ke "kita" an merupakan budaya timur yang mengajak orang lain untuk ikut memiliki nilai dari rasa dan karsa yang disampaikan. Kadang sulit mengucapkan kita diatas kata Saya atau aku. Tapi bagaimanapun kembali, badan kita lidah kita tidak dapat berbohong saat "aku dan saya" mengemuka diatas "kita", artinya hati dan pribadi kita menginginkan ke"aku" an itu.
Suatu hari seorang teman yang biasa bekerja dengan kita bicara tentang bagaimana sebuah pekerjaan dapat diselesaikan, teman saya ini berusaha untuk meyakinkan bahwa "kita" akan bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Namun beberapa waktu kemudian dia menyampaikan bahwa maaf hanya ini yang saya bisa, kebetulan saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan dan kesibukan saya, lha karena keadaan saya yang demikian maka saya tidak bisa mentoleransi keadaan yang demikian, dan lain sebagainya...
Wah kok ada yang hilang ya? kenapa tiba-tiba kata kita itu hilang dan diganti aku dan saya???
menyedihkan tentunya mengetahui bahwa spirit kita itu sudah hilang.
Yah sering kita tidak memahami hal tersebut saat terjadi pada kita, bahwa ternyata panggilan hati kita menolak nilai yang kita aminkan, dan pada akhirnya perbuatan dan ucapan kita kembali berbohong, bahwa itu bukan tujuan dan panggilan hati kita.
Sungguh menyakitkan bukan saat mengetahui segala sesuatunya ternyata tidak seperti yang diharapkan kemudian, apalagi mengetahui bahasa tubuh rekan, saudara, teman seperjuangan kita, ternyata tidak bisa berbohong lagi untuk menyembunyikan ketidak sepahaman itu.
Past akan lebih baik, bila setiap orang terbuka untuk menyatakan ketidaksetujuannya, ketidak sediaannya, ketidak mauannya pada idea, rasa dan karsa tertentu, dan bukan menggunakan kepura-puraan demi kepentingan apapun, sehingga tidak ada keberatan dalam perjalanan dan kebohongan di belakang hari.
Semoga tulisan ni memberi wacana baru dalam kehidupan kita.
FAREWELL my FRIEND ...

1 komentar:
From : Kresensius Asun
Saya sangat tertarik dengan yg anda ceritakan ttg pengalaman anda.
Mohon maaf kalau saya ingin belajar dari pengalaman anda.
Sedikit timbal balik: ttg pengalaman saya.Pada saat saya sakit berat dg keputusan cuti kuliah 1 smtr, kepasrahan dlm diri saya benar2 terjadi.Sebenarnya saya tdk pernah dlm sblm'nya.
Selama sakit dg biaya yg cukup besar,yg saya tdk tau biaya itu akan dpt dr mana dan saya merasa putus asa.Saya merasa tdk akan lama lg hidup di dunia ini.
Namun yg terjadi suatu keajaiban datang pada saya,Saya memiliki seorang teman yg jauh lebih tua dr saya & saya tdk tau apa yg sebelum dia lakukan & ternyata dia membawa seorang ibu sekitar 40an usianya memberi saya amplop yg berisiakan sejumlah uang yg saya rasa mimpi dg jmlh 3jt itu bkan kunjungannya ya terakhir,beliau mengunjungi saya 3hari serta memberi amplop lg.
Selama kunjungannya beliau memberi saya segala motivasi dan berusaha merubah saya untuk bisa berfikir dan bertindak positif.
Awalnya sulit bagi saya konsentrasi berfikiran positif.
Saya berusaha dan harus yakin kalau saya sembuh.
Dan itu berhasil,Amin saat ini saya sudah sehat.
Ternya berfikir dan bertindak positif sangat berpengaruh ke arah yg baik dlm kehidupan saya.
Yg tdk di sangka ternyata saya memiliki seorang teman yg sangat baik & perhatian tanpa pamrih.
Saya merasa dia adl malaikat yg di kirim untuk saya.
Mungkin kah ada teman seperti itu di sekitar anda...?
Ternyata tidak sia-sia memiliki banyak teman,di antaranya pasti ada yg sangat baik.Jauh lebih baik dr diri kita sendiri.
Mungkin cerita ini sangat membosankan bagi anda.
untuk kekurangnya saya mohon maaf.
"Saya ingin belajar lebih dari anda".
Because I'm sure you are far more experienced.
Posting Komentar