Kamis, 26 Juli 2012

Kelangkaan Kedelai - satu lagi Kegagalan Penegakan Kedaulatan Pangan

Kenaikan harga kedelai sebagai akibat berkurangnya pasokan kedelai yang memberikan dampak pada melemahnya daya pasok industri tempe dan tahu, merupakan salah satu gambaran kegagalan kita dalam menegakkan kedaulatan pangan.   Bagaimana tidak, konsumsi tempe dan tahu sebagai sumber protein utama bangsa ini akhirnya harus dikendalikan oleh jumlah pasokan kedelai asing.  Bagaimana tidak menyakitkan, produk budaya konsumsi protein yang dibentuk bersama dengan terbentuknya bangsa ini, harus ditekan bahkan mungkin mati, dan mengharap belas kasihan produksi kedelai bangsa lain.
Tidak salah kiranya saat saat Henry Kisinger (mantan menteri luar negeri Amerika), menngatakan “control oil and you can control the nation, control food and you can control the people” (kalau kita ingin menguasai sebuah negara, kuasai minyak dan kalau kita ingin kuasai bangsanya, kuasai pangannya). Hal ini merupakan pandangan penting negara adidaya, bahwa pada masa depan, Pangan dapat menjadi senjata penting untuk memaksa, menekan bahkan menindas kebudayaan tertentu, bangsa tertentu. Membentuk ketergantungan pada kuantitas dan kualitas konsumsi pangan tertentu, menguasai sumberdaya utama konsumsi pangan dan mengendalikan pasokan pangan, merupakan tahapan praktek penjajahan pangan.  Tidak perlu lagi mengancam sebuah negara dengan senjata, cukup dengan mengendalikan ketersediaan pangan.
Menggunakan Pangan sebagai komoditi politik internasional keberadaanya telah diingatkan Sukarno melalui NEOKOLIM – neo kolonialisme dan neo imperialisme. Bentuk baru kolonialisme dan imperialisme itu mungkin tidak serumit mekanisme yang terjadi saat ini.  Peringatan Sukarno jelas mengatakan bahwa Ekonomi merupakan salah satu pilar penting kedaulatan, dan jelas saat bahwa kita abai mempersiapkan sektor pangan kita sebagai salah satu pembentuk ekonomi yang penting.
Hal Keadulatan Pangan telah banyak dibicarakan sejak tahun 90an.  Beberapa tokoh nasionalis telah berbicara bahwa kita akan memiliki berbagai masalah pangan sebagai akibat kegagalan kebijakan, infrastruktur, pergeseran ekonomi dan perubahan sosial.  Kegagalan kedaulatan pangan dikontribusi oleh berbagai agregat permasalahan.  Pertama, Kegagalan mempertahankan produksi sebagai akibat pergeseran tataguna lahan.  Tahun 2009 dicatat lahan pertanian hanya tersedia 7,7 juta hektar, dari kebutuhan ideal 11-15 juta hektar.  Hal ini dipengaruhi oleh konversi lahan yang tinggi yang dicatat mencapai 100-110 ribu hektar per tahun.  Kalau jumlah ini ditara dengan tanaman padi, maka pada tingkat produksi 5 ton/ha kita akan terus kehilangan padi 1 – 1,1 juta ton setiap tahun setara padi. Dengan penurunan ini, diprediksi kita akan mengalami kerawanan pangan pada 180 kabupaten kota dari 480 kabupaten kota hingga tahun 2017.
Kedua, Kegagalan Kegagalan mempertahankan produksi sebagai akibat rendahnya dukungan membentuk ekonomi agraris yang tangguh.  Pertanian tangguh rupanya hanya slogan semata.  Bagaimana bisa tangguh saat petani identik dengan orang tua yang tidak berpendidikan.  Kenyataanya sangat sedikit generasi muda bangsa ini yang akan dengan kebebasan sendiri akan memilih  untuk memasuki dunia pertanian. Bahkan anak petani tidak akan memilih pertanian sebagai pilihan pertama.  Hal ini menunjukkan bahwa dunia pertanian tidak menarik minat generasi baru.  Image bahwa pertanian adalah sistem yang miskin, kotor dan tidak dapat memberikan masa depan yang cerah merupakan gambar yang dilihat generasi baru kita.  Profesi petani merupakan sektor berpenghasilan terendah, berkisar 438.149/bulan (bandingkan upah buruh bangunan sebesar 734.070/bulan (2006).   Pantaslah bila jumlah pasokan tenaga berlatar belakang ilmu pertanian terus menurun seiring penurunan minat memasuki bidang agrokompleks.  Bidang agraris yang tangguh hanya dapat dilakukan dengan peran serta pemerintah melindungi sektor pertaniannya.  Dibanyak negara maju termasuk Amerika Serikat, negara mengalokasikan banyak anggaran untuk melindungi petaninya.  Amerika pada tahun 2006 memberikan subsidi lebih dari 2 milyar dollar amerika, meningkat lebih dari 15% dari tahun 2003.  Dengan subsidi sebesar itu, tiap petani Amerika menikmati dukungan pemerintah lebih dari 250 US$/ha (2,5 juta rupiah / ha).  Berapa yang sudah kita berikan untuk petani kita ?.
Masih banyak faktor lain yang bertanggung jawab atas kegagalan kita mempertahankan kedaulatan pangan kita.  Namun sebagai bagian awal yang kecil kita dapat memulai perbaikan kedaulatan kita dengan  langkah strategis;
Pertama, mendorong pertumbuhan lahan pertanian dan produksi yang setara dengan kebutuhan pangan, perencanaan tataguna lahan, pengaturan kompensasi kehilangan lahan pertanian harus secara konsisten ditegakkan.  Konsistensi melaksanakan rencana program Peningkatan Ketahanan Pangan yang telah ditetapkan, dengan pemantauan keberhasilan yang ketat juga merupakan hal yang harus dilakukan.
Kedua, meningkatkan dukungan pada sektor pertanian melalui insentif, subsidi, perlindungan produk dan pengelolaan pasar yang lebih baik akan dapat mendorong gairah sektor pertanian sebagai pusat kesejahteraan.
Ketiga, pengelolaan kultur pangan yang sehat, ragam dan sesuai dengan potensi daerah juga merupakan langkah penting dalam mengendalikan kualitas dan kuantitas pangan bangsa ini. Kita dengan kemampuan kita, perlu terus mendorong upaya sosialisasi, pembiasaan dan pendidikan kultur pangan tersebut.

Demikian, agar jangan terjadi pada kita seperti apa yang disampaikan Multatuli tentang Pangan;  Bahaya kelaparan?... Di pulau Jawa yang subur dan kaya itu, bahaya kelaparan? Ya, saudara pembaca. Beberapa tahun yang lalu ada distrik-distrik yang seluruh penduduknya mati kelaparan,…ibu-ibu menjual anak-anak untuk makan,…ibu-ibu memakan anaknya sendiri”    (Multatuli, Max Havelaar, 1972 (asli 1860) hal. 64)

Senin, 16 Agustus 2010

Menilai Perbuatan Sebagai Cerminan Pribadi

Kita tentu percaya bahwa perbuatan merupakan cerminan apa yang ada didalam hati. Bahwa Tubuh dan bahasa tubuh tidak dapat berbohong. Karena tbuhkita didesain untuk tidak dapat berbohong dan hanya menyampaikan kebenaran.

Tapi kadangkala kita sebagai manusia berusaha berbohong, mungkin tidak seluruh bohong itu buruk, kata beberapa orang, namun benarkah itu ?

Tentu kita percaya bahwa kebohongan yang prinsip akan mengakibatkan kerusakan pada akhirnya, dan upaya kita untuk menutupi hal itu akan sia-sia karena perilaku dan bahasa tubuh kita tidak dapat berbohong untuk meng-aminkan upaya bohong kita.

Saya memiliki pengalaman, menarik dengan hal diatas,
Ada seorang teman meminta saya untuk mengerjakan sebuah pekerjaan baginya, yang menurut dia perlu dan patut dilakukan untuk kesinambungan cita cita organisasi. Saya menanggapi dengan baik dan lugas pekerjaan itu, tantangan yang tidak pernah saya abaikan. Menarik buat saya untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Selanjutnya satu tahapan pekerjaan tersebut terselesaikan dan membuahkan hasil, dimana harus muncul pekerjaan baru sebagai kelanjutan tahap pertama, tentu saya berharap bahwa teman saya akan menanyakan apa yang harus dilakukan untuk pekerjaan yang kedua bukan? sebuah bukti bahwa pekerjaan ini merupakan keseriusan PEKERJAAN dan bukan hanya ikon keberhasilan.
Ternyata harapan saya sia-sia. Tahu hal pertama yang dinyatakan oleh teman saya pada saya? "apa anda tertarik untuk mengabari "bos-bos" kita?. tentu saya langsung menjawab tidak!. tahu mengapa ? karena menurut saya bukan masalah "pemberitaannya" yang penting, tapi "what nextnya" yang perlu dibahas.
Terus terang saya akan menanyakan pada teman saya itu, apakah yang penting menurut pribadinya?... dan saya berharap bola matanya tidak bergerak ke kiri... karena kalu itu terjadi maka dia BOHONG, dan tentu saya akan sangat kecewa.
Mengapa tidak, sebuah pekerjaan yang dibangun dengan antusiasme, kegembiraan dan sukacita kerja yang tidak kenal rasa lelah ... ternyata hanya untuk memuaskan keinginan satu orang akan eksistensi .... semoga tidak terjadi.
Kejadian ini menurut saya mennjukkan bagaimana seorang yang dengan ucapan menyampaikan sebuah idea yang menjadi motif bagi orang lain ternyata dalam perbuatannya tidak menunjukkan idea itu sebagai dasar. Perbuatan yang dilakukan tidak menggambarkan keinginan kuat untuk berjuang bagi organisasi. Kasihan orang yang terdorong motif itu, karena terambil manfaatnya tanpa diberi kesempatan menyadari itu.

Dalam hal lain, sering kita menyatakan kata "kita" untuk menunjukkan kebersamaan. Ke "kita" an merupakan budaya timur yang mengajak orang lain untuk ikut memiliki nilai dari rasa dan karsa yang disampaikan. Kadang sulit mengucapkan kita diatas kata Saya atau aku. Tapi bagaimanapun kembali, badan kita lidah kita tidak dapat berbohong saat "aku dan saya" mengemuka diatas "kita", artinya hati dan pribadi kita menginginkan ke"aku" an itu.

Suatu hari seorang teman yang biasa bekerja dengan kita bicara tentang bagaimana sebuah pekerjaan dapat diselesaikan, teman saya ini berusaha untuk meyakinkan bahwa "kita" akan bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Namun beberapa waktu kemudian dia menyampaikan bahwa maaf hanya ini yang saya bisa, kebetulan saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan dan kesibukan saya, lha karena keadaan saya yang demikian maka saya tidak bisa mentoleransi keadaan yang demikian, dan lain sebagainya...
Wah kok ada yang hilang ya? kenapa tiba-tiba kata kita itu hilang dan diganti aku dan saya???
menyedihkan tentunya mengetahui bahwa spirit kita itu sudah hilang.
Yah sering kita tidak memahami hal tersebut saat terjadi pada kita, bahwa ternyata panggilan hati kita menolak nilai yang kita aminkan, dan pada akhirnya perbuatan dan ucapan kita kembali berbohong, bahwa itu bukan tujuan dan panggilan hati kita.
Sungguh menyakitkan bukan saat mengetahui segala sesuatunya ternyata tidak seperti yang diharapkan kemudian, apalagi mengetahui bahasa tubuh rekan, saudara, teman seperjuangan kita, ternyata tidak bisa berbohong lagi untuk menyembunyikan ketidak sepahaman itu.

Past akan lebih baik, bila setiap orang terbuka untuk menyatakan ketidaksetujuannya, ketidak sediaannya, ketidak mauannya pada idea, rasa dan karsa tertentu, dan bukan menggunakan kepura-puraan demi kepentingan apapun, sehingga tidak ada keberatan dalam perjalanan dan kebohongan di belakang hari.

Semoga tulisan ni memberi wacana baru dalam kehidupan kita.

FAREWELL my FRIEND ...

Selasa, 27 Juli 2010

LEADER - Pemimpin

Pemimpin / Leader, sering dikonotasikan sebagai simbol puncak kekuasaan. Kekuatan untuk memaksa, senioritas, pusat organisasi, pusat pusaran pelayanan, dan lain lain.
Ada paradigma menarik dari kepemimpinan ditinjau dari sudut religi, idea yang hilang.
Kalau kata Mario Teguh.
Pemimpin adalah orang yang rela mengorbankan kenyamanan dirinya, untuk kenyamanan orang lain. Dengan pengertian, kalau kamu jadi pemimpin, dulukan pengorbanan dirimu untuk kenyamanan orang lain.
Bingung meneruskannya...... kapan kapan diteruskan lagi.

Minggu, 11 Juli 2010

Materi Kuliah Bisnis Internasional - UNITRI

Berikut ini adalah link untuk Materi Kuliah Bisnis Internasional - Di Universitas Tribhuwana Tunggadewi - Malang

Salin / Copy Link dibawah ini dan tempel / paste pada address bar browser anda
Selanjutnya CLICK "Download This Doc"

Bagian 1. Globalisasi dan Bisnis Internasional

Bagian 2. Implikasi Ekopolitik




Kamis, 10 Juni 2010

Banyaknya Definisi MERDEKA

Merdeka
Salam nasional yang mungkin sudah tertinggal, semakin jarang didengungkan. Salam ini bagi beberapa kelompok memberikan penciri, identitas dan spirit.
Merdeka, menurut wikipedia : (1). saat di mana sebuah negara meraih hak kendali penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya dan (2). saat di mana seseorang mendapatkan hak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak bergantung pada orang lain lagi.
Menarik untuk menelaah apa arti merdeka, terutama dalam memaknainya dalam kehidupan kita.

MERDEKA = PENGENDALIAN DIRI
Merdeka berarti memperoleh hak untuk mengendalikan diri sendiri, artinya merdeka itu pengendalian diri, merdeka bukan "kebebasan" untuk semaunya, tetapi kemampuan mengendalikan diri. Jadi kalau kita tidak dapat mengendalikan diri kita... kita belum merdeka, saat kita masih melakukan hanya permintaan diri, permintaan badan, permintaan jasmani, ke"ingin"an, maka kita belum merdeka.
Sebaliknya saat kita mampu mengenal, mengatur, mengelola sumberdaya diri kita, mengarahkannya menjadi potensi positif kita adalah orang yang merdeka.

MERDEKA = MANDIRI
Merdeka berarti kemandirian, tidak bergantung pada orang lain atau bergantung pada "sesuatu" (kecuali bergantung pada Tuhan tentunya ya). Sering saat melakukan sesuatu kita berkata, "ya ... asal ada .... ya bisa saja" atau "lah ... ada itu sih, makanya tidak bisa". Pernyataan pernyataan seperti itu menggambarkan bahwa kita tidak merdeka, kita bergantung pada sesuatu yang bukan seharusnya untuk menentukan keberhasilan dan bahkan kegagalan kita. Jadi bila kita masing menganggap keberhasilan kita bergantung pada orang lain, keadaan, keterbatasan.... bisa dipastikan kita belum merdeka.
Saat kita mampu mengelola potensi diri, mengeliminasi berbagi hambatan, keluar dari kotak kita dengan menetapkan diri kita sebagai penetu sukses kita, kita orang yang lebih merdeka

MERDEKA=MENENTUKAN NASIB SENDIRI
Sepertinya agak mirip dengan terminologi sebelumnya "mandiri", namun menentukan hnasib sendiri, lebih banyak merupakan bentuk HAK dasar yang dimiliki seseorang yang merdeka, ia akan bebas menentukan menjadi apa dan siapa ia nantinya. Tentu menentukan nasib, tidak mungkin dengan menetukan nasib buru. "Saya akan menjadi pengedar narkoba" atau "saya ingin menjadi koruptor sukses", tentu bukan nasib yang kita semua inginkan. Tentu kita menginginkan keadaan POSITIF untuk nasib kita. Kalau kita diperbolehkan menentukan nasib kita, tanpa tergantung orang lain, dan dapat mengendalikan setiap langkah kita pada obyektif "nasib" kita... kita telah menjadi orang yang lebih lebih merdeka.

MERDEKA = BERTANGGUNG JAWAB
Merdeka, sebagai keadaan mandiri dan kepemilikan hak atas nasib sendiri tentu menuntut tanggung jawab. Saat orang tua kita melepaskan kita untuk pergi merantau, kuliah, atau jauh dari orang tua, mereka menginginkan kita untuk dapat mengatur diri kita sesuai pandangan yang telah mereka tanamkan. Orang tua kita juga memberikan pada kita berbagai akses sumberdaya untuk dapat mengurangi ketergantungan kita pada kendala sekeliling. Dengan itu, kita tentu kita harus mempertanggung jawabkan hasilnya pada mereka ... lebih dari itu pada diri kita, karena kita yang memilih nasib kita bukan?. jadi bagaimana hasilnya ?, sesuatu yang harus kita pertanggungjawabkan.
Bila kita telah mampu mengelola potensi diri, mengelola hambatan dengan memandirikan diri untuk menentukan nasib kita, dan pada akhirnya dapat mempertanggung jawabkan segala sesuatu yang telah kita buat, dengan penuh keyakinan ... maka kita telah menjadi orang yang lebih lebih lebih merdeka.

Masih banyak definisi MERDEKA, saya yakin anda yang membaca, bisa memberikan masukan yang lebih banyak tentang pengalaman anda menjadi MERDEKA, tentu akan menarik mengetahui definisi lain dari MERDEKA.
Beberapa teman bilang, merdeka adalah :
Eksistensi, Determinasi, Cerdas dan Lepas dari Kebodohan, Maju Terus, Keberhasilan, Pantang Menyerah, Gagal namun Tersenyum (tapi tidak senyum-senyum sendiri lho ya). kita teruskan kapan ... kapan ya?
Apa MERDEKA Menurut Anda ???

MERDEKA

Senin, 23 Februari 2009

FRIENDS - What are those for ?

Persahabatan merupakan fenomena kehidupan sosial. Satu orang menjadi sahabat orang lain dan sebaliknya, merupakan hal umum. Setiap orang memiliki sahabat dalam KADAR yang berbeda beda.
KADAR ?, suatu ukuran yang tentunya sulit dinyatakan dengan indikator kasat indera. Tapi kadang kadar persahabatan bisa diukur dari perasaan. Perasaan memang tidak bisa berdusta tapi kadang kala perasaan bisa salah.
Winston Churchil menyampaikan konsep atas ukuran persahabatan. Perasahabatan dilandasi dengan kepercayaan dan kepercayaan di respon dengan Integritas, bila tidak ada integritas, maka kepercayaan akan sia-sia dan tidak ada lagi persahabatan.
Sebuah pernyataan yang menarik bagaimana persahabatan dapat diukur secara kasat indera.
Bila ada 2 orang yang bersahabat, maka apa sebenarnya yang terjadi diantara mereka. Mengacu pada apa yang disampaikan Winston Churchill, Salah satu dari kedua orang itu atau keduanya saling memberikan KEPERCAYAAN. Lalu apa yang terjadi setelah kepercayaan?. Churchill mengatakan sebagai respon dari kepercayaan maka seorang memberikan INTEGRITASnya pada yang lain. Selanjutnya persahabatan akan menjadi sebuah hubungan yang positif.
Integritas adalah bentuk respon memberikan aksi yang menunjukkan upaya memelihara Kepercayaan. Upaya ini memberikan kesan "DAPAT DIANDALKAN". Kepercayaan yangh diberikan pada seseorang di respon oleh yang lain dengan "AKU BISA KAMU ANDALKAN".
Terminologi Ekonomi bicara dengan bahasa yang berbeda. KONTRIBUSI merupakan terminologi yang digunakan untuk menterjemahkan INTEGRITAS.
Kontribusi tidak harus selalu bermakna material, lebih banyak bermakna imaterial.
Dengan memberikan kontribusi positif satu sama lain, persahabatan akan semakin baik, semakin kokoh dan semakin bermakna.
Bukankah SINDEN TOSCA bilang "Persahabatan Bagai Kepompong yang berusaha menjadi kupu-kupu". Untuk sebuah kepompong menjadi kupu-kupu, diperlukan WAKTU dan yang penting, keberanian untuk BERUBAH, MATI, HANCUR, demi persahabatan. Thats It Means CONTRIBUTION. Karena sang ulat PERCAYA bahwa dengan hancurnya jasadnya ia akan berubah menjadi Kupu-kupu, maka Kontribusi dan Integritas yang paling sulitpun ditempuhnya.
SO MAKES A FRIEND, GIVE THEM TRUST, ASKED THEM INTEGRITY, but dont forget, as THEY GIVE YOU TRUST, GIVE THEM KONTRIBUTION and INTEGRITY.

Minggu, 27 Juli 2008

MORE POWER NOTED MORE RESPONSEABILITY. Something wich missing lately

Power, kekuasaan. merupakan bentuk wewenang yang memberikan pada seseorang lebih banyak keleluasaan dalam organisasi. Sebuah pertimbangan yang panjang diperlukan untuk memberikan pada seseorang wewenang. karena wewenang memberikan aksesabilitas lebih banyak pada seseorang untuk mengeksploitasi sumber daya yang tersedia.
Kekuasaan memang luar biasa. Seseorang yang memilikinya dapat menggunakannya dengan mudah. Hal yang penting yang mengikuti hal tersebut adalah tanggung jawab. Tanggung jawab bahwa penggunaan kekuasaan itu hanya di arahkan pada kemaslahatan orang banyak.
Makin tinggi posisi seseorang, makin besar kekuasaan yang dimilikinya. Menyertainya, makin banyak orang yang harus menerima manfaat dari kekuasaan itu.
Tapi sayang, bagian itu sering hilang dari porsi pemegang kekuasaan.
Pemegang kekuasaan hanya tertarik untuk menggunakan wewenang yang dimilikinya untuk menyelamatkan tujuannya, tanpa perduli kepentingan sebagian orang lain disekitarnya