Senin, 16 Agustus 2010

Menilai Perbuatan Sebagai Cerminan Pribadi

Kita tentu percaya bahwa perbuatan merupakan cerminan apa yang ada didalam hati. Bahwa Tubuh dan bahasa tubuh tidak dapat berbohong. Karena tbuhkita didesain untuk tidak dapat berbohong dan hanya menyampaikan kebenaran.

Tapi kadangkala kita sebagai manusia berusaha berbohong, mungkin tidak seluruh bohong itu buruk, kata beberapa orang, namun benarkah itu ?

Tentu kita percaya bahwa kebohongan yang prinsip akan mengakibatkan kerusakan pada akhirnya, dan upaya kita untuk menutupi hal itu akan sia-sia karena perilaku dan bahasa tubuh kita tidak dapat berbohong untuk meng-aminkan upaya bohong kita.

Saya memiliki pengalaman, menarik dengan hal diatas,
Ada seorang teman meminta saya untuk mengerjakan sebuah pekerjaan baginya, yang menurut dia perlu dan patut dilakukan untuk kesinambungan cita cita organisasi. Saya menanggapi dengan baik dan lugas pekerjaan itu, tantangan yang tidak pernah saya abaikan. Menarik buat saya untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Selanjutnya satu tahapan pekerjaan tersebut terselesaikan dan membuahkan hasil, dimana harus muncul pekerjaan baru sebagai kelanjutan tahap pertama, tentu saya berharap bahwa teman saya akan menanyakan apa yang harus dilakukan untuk pekerjaan yang kedua bukan? sebuah bukti bahwa pekerjaan ini merupakan keseriusan PEKERJAAN dan bukan hanya ikon keberhasilan.
Ternyata harapan saya sia-sia. Tahu hal pertama yang dinyatakan oleh teman saya pada saya? "apa anda tertarik untuk mengabari "bos-bos" kita?. tentu saya langsung menjawab tidak!. tahu mengapa ? karena menurut saya bukan masalah "pemberitaannya" yang penting, tapi "what nextnya" yang perlu dibahas.
Terus terang saya akan menanyakan pada teman saya itu, apakah yang penting menurut pribadinya?... dan saya berharap bola matanya tidak bergerak ke kiri... karena kalu itu terjadi maka dia BOHONG, dan tentu saya akan sangat kecewa.
Mengapa tidak, sebuah pekerjaan yang dibangun dengan antusiasme, kegembiraan dan sukacita kerja yang tidak kenal rasa lelah ... ternyata hanya untuk memuaskan keinginan satu orang akan eksistensi .... semoga tidak terjadi.
Kejadian ini menurut saya mennjukkan bagaimana seorang yang dengan ucapan menyampaikan sebuah idea yang menjadi motif bagi orang lain ternyata dalam perbuatannya tidak menunjukkan idea itu sebagai dasar. Perbuatan yang dilakukan tidak menggambarkan keinginan kuat untuk berjuang bagi organisasi. Kasihan orang yang terdorong motif itu, karena terambil manfaatnya tanpa diberi kesempatan menyadari itu.

Dalam hal lain, sering kita menyatakan kata "kita" untuk menunjukkan kebersamaan. Ke "kita" an merupakan budaya timur yang mengajak orang lain untuk ikut memiliki nilai dari rasa dan karsa yang disampaikan. Kadang sulit mengucapkan kita diatas kata Saya atau aku. Tapi bagaimanapun kembali, badan kita lidah kita tidak dapat berbohong saat "aku dan saya" mengemuka diatas "kita", artinya hati dan pribadi kita menginginkan ke"aku" an itu.

Suatu hari seorang teman yang biasa bekerja dengan kita bicara tentang bagaimana sebuah pekerjaan dapat diselesaikan, teman saya ini berusaha untuk meyakinkan bahwa "kita" akan bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Namun beberapa waktu kemudian dia menyampaikan bahwa maaf hanya ini yang saya bisa, kebetulan saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan dan kesibukan saya, lha karena keadaan saya yang demikian maka saya tidak bisa mentoleransi keadaan yang demikian, dan lain sebagainya...
Wah kok ada yang hilang ya? kenapa tiba-tiba kata kita itu hilang dan diganti aku dan saya???
menyedihkan tentunya mengetahui bahwa spirit kita itu sudah hilang.
Yah sering kita tidak memahami hal tersebut saat terjadi pada kita, bahwa ternyata panggilan hati kita menolak nilai yang kita aminkan, dan pada akhirnya perbuatan dan ucapan kita kembali berbohong, bahwa itu bukan tujuan dan panggilan hati kita.
Sungguh menyakitkan bukan saat mengetahui segala sesuatunya ternyata tidak seperti yang diharapkan kemudian, apalagi mengetahui bahasa tubuh rekan, saudara, teman seperjuangan kita, ternyata tidak bisa berbohong lagi untuk menyembunyikan ketidak sepahaman itu.

Past akan lebih baik, bila setiap orang terbuka untuk menyatakan ketidaksetujuannya, ketidak sediaannya, ketidak mauannya pada idea, rasa dan karsa tertentu, dan bukan menggunakan kepura-puraan demi kepentingan apapun, sehingga tidak ada keberatan dalam perjalanan dan kebohongan di belakang hari.

Semoga tulisan ni memberi wacana baru dalam kehidupan kita.

FAREWELL my FRIEND ...

Selasa, 27 Juli 2010

LEADER - Pemimpin

Pemimpin / Leader, sering dikonotasikan sebagai simbol puncak kekuasaan. Kekuatan untuk memaksa, senioritas, pusat organisasi, pusat pusaran pelayanan, dan lain lain.
Ada paradigma menarik dari kepemimpinan ditinjau dari sudut religi, idea yang hilang.
Kalau kata Mario Teguh.
Pemimpin adalah orang yang rela mengorbankan kenyamanan dirinya, untuk kenyamanan orang lain. Dengan pengertian, kalau kamu jadi pemimpin, dulukan pengorbanan dirimu untuk kenyamanan orang lain.
Bingung meneruskannya...... kapan kapan diteruskan lagi.

Minggu, 11 Juli 2010

Materi Kuliah Bisnis Internasional - UNITRI

Berikut ini adalah link untuk Materi Kuliah Bisnis Internasional - Di Universitas Tribhuwana Tunggadewi - Malang

Salin / Copy Link dibawah ini dan tempel / paste pada address bar browser anda
Selanjutnya CLICK "Download This Doc"

Bagian 1. Globalisasi dan Bisnis Internasional

Bagian 2. Implikasi Ekopolitik




Kamis, 10 Juni 2010

Banyaknya Definisi MERDEKA

Merdeka
Salam nasional yang mungkin sudah tertinggal, semakin jarang didengungkan. Salam ini bagi beberapa kelompok memberikan penciri, identitas dan spirit.
Merdeka, menurut wikipedia : (1). saat di mana sebuah negara meraih hak kendali penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya dan (2). saat di mana seseorang mendapatkan hak untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak bergantung pada orang lain lagi.
Menarik untuk menelaah apa arti merdeka, terutama dalam memaknainya dalam kehidupan kita.

MERDEKA = PENGENDALIAN DIRI
Merdeka berarti memperoleh hak untuk mengendalikan diri sendiri, artinya merdeka itu pengendalian diri, merdeka bukan "kebebasan" untuk semaunya, tetapi kemampuan mengendalikan diri. Jadi kalau kita tidak dapat mengendalikan diri kita... kita belum merdeka, saat kita masih melakukan hanya permintaan diri, permintaan badan, permintaan jasmani, ke"ingin"an, maka kita belum merdeka.
Sebaliknya saat kita mampu mengenal, mengatur, mengelola sumberdaya diri kita, mengarahkannya menjadi potensi positif kita adalah orang yang merdeka.

MERDEKA = MANDIRI
Merdeka berarti kemandirian, tidak bergantung pada orang lain atau bergantung pada "sesuatu" (kecuali bergantung pada Tuhan tentunya ya). Sering saat melakukan sesuatu kita berkata, "ya ... asal ada .... ya bisa saja" atau "lah ... ada itu sih, makanya tidak bisa". Pernyataan pernyataan seperti itu menggambarkan bahwa kita tidak merdeka, kita bergantung pada sesuatu yang bukan seharusnya untuk menentukan keberhasilan dan bahkan kegagalan kita. Jadi bila kita masing menganggap keberhasilan kita bergantung pada orang lain, keadaan, keterbatasan.... bisa dipastikan kita belum merdeka.
Saat kita mampu mengelola potensi diri, mengeliminasi berbagi hambatan, keluar dari kotak kita dengan menetapkan diri kita sebagai penetu sukses kita, kita orang yang lebih merdeka

MERDEKA=MENENTUKAN NASIB SENDIRI
Sepertinya agak mirip dengan terminologi sebelumnya "mandiri", namun menentukan hnasib sendiri, lebih banyak merupakan bentuk HAK dasar yang dimiliki seseorang yang merdeka, ia akan bebas menentukan menjadi apa dan siapa ia nantinya. Tentu menentukan nasib, tidak mungkin dengan menetukan nasib buru. "Saya akan menjadi pengedar narkoba" atau "saya ingin menjadi koruptor sukses", tentu bukan nasib yang kita semua inginkan. Tentu kita menginginkan keadaan POSITIF untuk nasib kita. Kalau kita diperbolehkan menentukan nasib kita, tanpa tergantung orang lain, dan dapat mengendalikan setiap langkah kita pada obyektif "nasib" kita... kita telah menjadi orang yang lebih lebih merdeka.

MERDEKA = BERTANGGUNG JAWAB
Merdeka, sebagai keadaan mandiri dan kepemilikan hak atas nasib sendiri tentu menuntut tanggung jawab. Saat orang tua kita melepaskan kita untuk pergi merantau, kuliah, atau jauh dari orang tua, mereka menginginkan kita untuk dapat mengatur diri kita sesuai pandangan yang telah mereka tanamkan. Orang tua kita juga memberikan pada kita berbagai akses sumberdaya untuk dapat mengurangi ketergantungan kita pada kendala sekeliling. Dengan itu, kita tentu kita harus mempertanggung jawabkan hasilnya pada mereka ... lebih dari itu pada diri kita, karena kita yang memilih nasib kita bukan?. jadi bagaimana hasilnya ?, sesuatu yang harus kita pertanggungjawabkan.
Bila kita telah mampu mengelola potensi diri, mengelola hambatan dengan memandirikan diri untuk menentukan nasib kita, dan pada akhirnya dapat mempertanggung jawabkan segala sesuatu yang telah kita buat, dengan penuh keyakinan ... maka kita telah menjadi orang yang lebih lebih lebih merdeka.

Masih banyak definisi MERDEKA, saya yakin anda yang membaca, bisa memberikan masukan yang lebih banyak tentang pengalaman anda menjadi MERDEKA, tentu akan menarik mengetahui definisi lain dari MERDEKA.
Beberapa teman bilang, merdeka adalah :
Eksistensi, Determinasi, Cerdas dan Lepas dari Kebodohan, Maju Terus, Keberhasilan, Pantang Menyerah, Gagal namun Tersenyum (tapi tidak senyum-senyum sendiri lho ya). kita teruskan kapan ... kapan ya?
Apa MERDEKA Menurut Anda ???

MERDEKA